Pendidikan dalam Islam

opini pendidikan
PENDIDIKAN DALAM HUKUM ISLAM

Pendidikan sebagai suatu proses kehidupan merupakan persiapan, yakni mempersiapkan terus menerus bekal pengetahuan mulai dari lahir sampai padan tahap kedewasaan bahkan sampai akhir hayat. Pendidikan ditujukan untuk semua kalangan, tidak memandang kasta. Semua orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan.
Dalam bukunya “Islamuna” Syayid Sabiq mengatakan : “Walmaqsuudu bittarbiyyati I ‘daaduththlfli badaniyyah waaqliyyan waruukhiyyan khatta yakuuna ‘udlwan nafi’an lln afsihi wallummatihi.” Artinya : “Maksud daripada pendidikan adalah mempersiapkan anak-anak dalam hal badan dan akal dan jiwa, sehingga dia menjadi anggota (masyarakat) yang bermanfaat bagi dirinya dan ummatnya.”
Jika pendapat Sayyid Sabiq tersebut kita ikuti, maka dalam pendidikan itu haruslah dapat membuat akal, kejiwaan, pengetahuan, unsure jasmani dan unsure rohaninya seseorang dapat berkembang terus menerus dengan baik. Apabila unsur-unsur jasmaniah dan kejiwaan (ruhaniah) anak-anak tidak baik, maka dapat menimbulkan problem dalam perkembangan anak didik selanjutnya.
Proses pendidikan untuk mempersiapkan anak-anak dengan cara seperti tersebut diatas adalah merupakan tujuan sementara atau tujuan yang belum tetap, belum merupakan tujuan yang muttakhir daripada pendidikan Islam yang dicita-citakan. Adapun tujuan yang muttakhir daripada pendidikan Islam itu harus paralel dan identik dengan tujuan akhir daripada hidup kaum muslimin yaitu manusia benar-benar berpribadi Muslim. Jadi manusia yang berpribadi Muslimlah yang sebenarnya menjadi tujuan muttakhir daripada pendidikan Islam.
Bagaimana rumusan dan ciri-ciri manusia berpribadi Muslim itu? Adalah banyak sekali. Namun demikian secara minimum dapatlah kita rumuskan sbb.:
1. Dewasa jasmani dan rohani,
2. Ada tanda-tanda beriman dan bertaqwa.
3. Cakap melakukan beribadah dalam hidup sehari-hari dalam arti luas, firman Allah swt. : “Wamaa chalaqtul jinna wal insa illa llya’ buduni” (Adzariyat : 56) “Tidak aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadat kepada Allah”.-
4. Berakhlaq mulia, sabda Nabi : “Innama buitstu llutamimma makaa rima akhlaql”.
5. Bercita-cita dan berusaha agar hidup bahagia didunia dan diakherat menurut jalan Islam.
Firman Alloh swt, : “waminkum man yakuulu robbana Atina Fiddunyaa khasanatan wafil akhiroti khasanatan waqina ‘adzaban Naar”, (Al baqoroh 201)
“Setengah dari mereka (manusia) ada orang yang berkata : Hai Tuhanku berilah aku kebahagiaan didunia dan kebahagian di akherat.
Semua proses dan persiapan-persiapan yang dilakukan oleh orang tua atau pendidik Muslim memang teknik/methodenya bermacam-macam. Tapi kesemuanya itu yang terakhir harus diarahkan kepada suatu titik membentuk manusia berpribadi Muslim dengan ciri-ciri pokok sperti tersebut diatas (by Asiyah Sahron).
Barhasil atau tidaknya suatu pendidikan Islam pernilaiannya harus didasarkan atas ciri-ciri manusia pribadi muslim tersebut.